Makna dan Hikmah Keadilan

Nabi Musa ‘alaihis salam (AS), masih tidak mampu untuk mencerna apa itu arti suatu keadilan, karenanya beliau bertanya, Rabb, Keadilan itu apa sih ? Allah tidak menjawab tapi memerintahkan sang Nabi untuk
pergi kesuatu tepian Oase (telaga ditengah gurun pasir). Musa AS sang Nabi tanpa menyanggah langsung pergi ketepian telaga itu. Selang beberapa waktu, ditengah gurun yang sunyi sepi, sesekali hembusan an gin gurun menyibak suasana, namun tak satupun peristiwa yang terjadi. Nabi Musa AS-pun tetap menunggu dan menunggu, sebab dalam hati beliau yakin bahwa Perintah Allah Pasti Ada Maknanya.

Tepat sinar matahari diatas ubun-ubun, seorang pemuda gagah dengan berkendaraan kuda, agaknya seorang keturunan bangsawan, berhenti ditepian sudut telaga, dia seperti ingin mengaso sejenak setelah menempuh perjalanan cukup jauh, mencuci muka, menyiramkan air kerambut, setelah segar kembali sipemuda menaiki kuda dan melanjutkan perjalanannya lagi. Tanpa disadari sipemuda, sewaktu menaiki kudanya tadi, ada sesuatu yang jatuh, rupanya setumpuk mata uang emas sebagai bekal perjalanan jauh, tercecer, sipemuda tidak tahu, (kejadian pertama yang disaksikan Nabi Musa AS).

Selang beberapa lama setelah itu, seorang pemuda agaknya seorang musafir kebanyakan, artinya orang biasa, juga singgah ditepian telaga untuk melepaskan lelah setelah berniaga kesekeliling desa-desa gurun pasir, setelah badan terasa segar, dia melanjutkan perjalanannya kembali, namun matanya tertuju kesuatu benda yang tergeletak ditepian itu, dia memungutnya, dia membukanya ternyata mata uang emas ada dalam buntil itu, terlihat keceriaan terbersit diwajahnya, dengan penuh semangat dia kembali melanjutkan p erjalannya, (kejadian kedua yang disaksikan Nabi Musa AS).

Disepanggah petang, dari kejauhan tampak seseorang menuju tepian telaga, rupanya seorang tua dengan nafas tertatih dia langsung mengambil air dan menyiramkan kewajahnya, betapa menyegarkan setelah berjalan jauh ketemu air, itulah suatu kenikmatan yang tia da tara, rasanya saat itu siraman air kewajah siorang tua lebih berharga dari sebungkah mas, sebab yang diperlukan saat itu adalah air, bukan emas ! Sedang asyik-asyiknya menikmati sejuknya air telaga, sipemuda gagah yang berkendaraan kuda (lihat kejadian pertama) rupanya kembali ketepian telaga itu, dia sangat yakin mata uang emasnya jatuh ditelaga itu. Karena yang ditemui disitu hanya seorang orang tua saja, sudah tentu dia menanyakan kepada orang tua itu, siorang tua tentu mengeleng pertanda tidak tahu, tapi sipemuda tetap ngotot malah dia bilang orang tua itu bohong besar, siapa lagi yang mengambilnya kalau bukan kamu, katanya ! Karena orang tua itu tidak mengaku, dia dengan sangat bengis menyiksa siorang tua hingga mati (kejadian ketiga).

Nabi Musa AS terperangah dalam ketidak tahuan makna peristiwa.
Allah bertanya: “Engkau faham Musa apa makna peristiwa-peristiwa itu ?”
“Tidak ya Rabb!” Nabi Musa AS menjawab.
Allah berfirman: “Itulah Keadilan!”

Posted 26th March 2010 by saeful uyun

Tentang adefit

i'm a cute man
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s